Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Sunday, April 12, 2009

1 September 1939: Perang Dunia Ke-II Dimulai

Saat fajar belum menyingsing, pasukan Jerman menyerang Polandia. Ini menandai dimulainya Perang Dunia II. Saat itu, Jerman dipimpin Adolf Hitler, pentolan Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei atau lebih dikenal sebagai Partai Nazi. Ia menjadi Kanselir Jerman pada sejak 1933 dan Führer sejak 1934. Italia, di bawah rezim fasis Benito Mussolini, bergabung dengan Jerman. Mereka menghadapi negara-negara Eropa lain seperti Inggris, Prancis, Belgia, dan Uni Soviet.
Sampai sekarang, perang ini adalah perang paling dahsyat yang pernah terselenggara di muka bumi. Sekitar 50 juta orang tewas dalam konflik ini dan 100 juta serdadu terlibat. Perang berlangsung di tiga benua: Eropa, Afrika, dan Asia. Di Asia, aksi militer Jepang menjadi pemantik api konflik. Pada 7 Desember 1941, armada pesawat Jepang melancarkan serangan terhadap Pearl Harbor, pangkalan angkatan laut AS terbesar di Pasifik. Pasukan Jepang sempat menghadapi perlawanan kecil, tapi pangkalan itu rusak parah akibat serangan tersebut. AS segera mengumumkan perang terhadap Jepang. Setelah serangan ini, Jepang merangsek ke Filipina, dan juga koloni-koloni Inggris di Hong Kong, Malaya, Kalimantan, dan Birma. Seluruh wilayah ini dan kawasan-kawasan lain jatuh ke tangan Jepang dalam beberapa bulan saja. Pada 1942, Jepang masuk ke Hindia Belanda. Enam tahun perang berkecamuk, Jerman dan Jepang akhirnya takluk. Amerika Serikat dan Uni Soviet segera menjadi kekuatan baru dunia. Perseteruan mereka melahirkan era Perang Dingin.(YUS/dari berbagai sumber)

11 September 2001: Serangan ke Ulu Hati Amerika

Pada hari itu, empat pesawat penumpang yang dibajak menabrakkan diri ke tiga bangunan di Amerika Serikat: dua menara World Trade Centre di New York dan Pentagon di Washington. Sekitar 3.000 orang tewas dalam serangan ini. Kehancuran begitu dahsyat. Bayangkan, dibutuhkan sekitar sembilan bulan untuk membersihkan reruntuhan World Trade Centre di "Ground Zero," tempat semula bangunan itu berdiri.
Penyelidikan kriminal terbesar dalam sejarah Amerika secara cepat mengidentifikasi para pembajak, dan mengaitkan mereka dengan Al Qaeda, kelompok Islam militan yang dibentuk Osama Bin Laden, anak salah satu orang terkaya di Arab Saudi. Lalu, Presiden George W. Bush mendeklarasikan perang melawan terorisme. Pada 8 Oktober 2001, pasukan Amerika dan Inggris mulai menyerang Afghanistan, negeri yang dipercaya menjadi tempat persembunyian bin Laden. Rezim Taliban segera jatuh tapi bin Laden seperti hilang ditelan bumi. Bush memperluas perang melawan terorisme dengan menginvasi Irak pada Maret 2003, bersama sejumlah serdadu negara-negara lain. Dan, itu berlangsung sampai sekarang dengan ribuan tentara Amerika telah menjadi korban.(YUS/dari berbagai sumber)

18 September 1948: Tragedi Madiun

Di Madiun, Jawa Timur, meletus konflik yang diawali diproklamasikannya "Negara Soviet Republik Indonesia” pada 18 September 1948 oleh Musso, seorang tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada hari itu, laskar-laskar yang bersimpati pada Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan PKI merebut obyek-obyek vital. Sejumlah pejabat pemerintahan lokal dibunuh. Maka, melalui corong RRI, Presiden Sukarno menyeru: “Pilih Sukarno Hatta atau PKI-Musso.” Tentara bergerak ke Madiun. Konflik bersenjata tak terelakkan. Ahirnya pada 30 September 1948, TNI dapat menguasai Madiun kembali. Musso sendiri tewas tertembak.
Dalam literatur sejarah, sejatinya ada dua teori besar yang coba menjelaskan insiden yang memakan korban ratusan nyawa ini. Teori pertama mengatakan, dalang Peristiwa Madiun adalah PKI. Menurut teori ini, bekerja sama dengan FDR, PKI hendak merebut kekuasaan dari Pemerintah RI dan menegakkan pemerintahan komunis. Teori kedua menyatakan, pelaku utama tragedi Madiun adalah kabinet yang dipimpin Wakil Presiden M. Hatta. Pada pertengahan Februari 1948, Kabinet Hatta bermaksud melakukan pengurangan jumlah personel TNI, antara lain demi menyusutkan beban keuangan pemerintah. Dalam pelaksanaannya, program rasionalisasi ini mendapat tentangan dari laskar-laskar rakyat, yang disokong kaum kiri, khususnya yang ada di Solo dan Madiun. Laskar-laskar itu merasa telah ikut berjasa dalam Revolusi Kemerdekaan, karena itu tak mau didemobilisasi begitu saja. Mereka bermaksud melawan. Pemeluk teori ini bilang, dalam situasi begini, Hatta memprovokasi kerusuhan di Madiun supaya terbit alasan menyingkirkan kaum kiri. Hingga era Orde Lama, peristiwa ini dinamakan Peristiwa Madiun (Madiun Affairs). Baru pada era Orde Baru, pertikaian ini disebut "Pemberontakan PKI Madiun." (YUS/dari berbagai sumber)

27 September 1996: Taliban Merebut Kekuasaan

Di Afghanistan, kelompok Taliban merebut ibu kota Kabul pada hari itu setelah pertempuran selama tiga hari. Pemerintahan Presiden Burhanuddin Rabbani digulingkan. Taliban lahir di sejumlah madrasah di Kandahar pada 1994. Ketika kelompok itu tegak, Afghanistan tengah direcoki konflik internal pasca-invasi Uni Soviet. Para santri itu kecewa dengan para elit politik yang hanya heboh mengejar tahta tanpa peduli nasib rakyat. Lalu, Taliban pun turun ke medan pertikaian.
Setelah Taliban berkuasa, keamanan dipulihkan. Rakyat sipil yang memegang senjata dilucuti. Dan, tak kalah penting: syariat Islam diamalkan. Cuma, syariat Islam versi mereka luar biasa konservatif: musik dan televisi dilarang, pria wajib memelihara janggut, perempuan wajib mengenakan cadar. Taliban tak jemu memantik kontroversi. Pada Maret 2001, rezim ini menghancurkan dua patung Budha raksasa berusia ribuan tahun di Lembah Bahmiyan. Dunia internasional protes, tapi mereka tak peduli. Sejak 1998, Taliban diincar Amerika Serikat. Pasalnya, rezim ini dituding menyembunyikan Osama bin Laden, sosok yang dianggap bertanggung jawab atas penyerangan kedutaan besar AS di Kenya dan Tanzania. Taliban bergeming. Hasilnya, sanksi pembekuan aset Taliban di luar Afghanistan dan larangan terbang ke dan dari negeri tersebut Kekuasaan Taliban akhirnya lepas ketika AS menyerbu pada 2001. Ini dalih Washington: memburu bin Laden yang diyakini bertanggung jawab atas Tragedi 11 September. Toh, kelompok itu sejatinya belum takluk. Bahkan, pengeboman Hotel Marriot di Islamabad, Pakistan, pekan lalu, juga dikaitkan dengan Taliban. (YUS/dari sejumlah sumber)

30 September 1965: Tragedi Paling Kelam di Era Kemerdekaan

Jakarta, lepas tengah malam. Sekelompok tentara menaiki truk-truk. Mereka lalu menyebar ke sejumlah titik. Beberapa jam kemudian, korban berjatuhan: enam jenderal Angkatan Darat dan sejumlah korban lain. Para korban dibawa ke Lubang Buaya, sebuah tempat dekat Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdana Kusumah. Menyusul aksi ini, pada 1 Oktober subuh, Letkol Oenteng, yang berbicara atas nama pihak yang melakukan aksi tersebut, mengumumkan di Radio Republik Indonesia bahwa ia memimpin gerakan menyelamatkan Presiden Sukarno dari kemungkinan kudeta Dewan Jenderal. Dan, para jenderal itu adalah anggota Dewan Jenderal—plus AH Nasution yang lolos dari sergapan para serdadu tersebut.
Oentoeng, Komandan Batalyon I Resimen Pengawal Presiden Cakrabirawa itu, juga mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi. Partai Komunis Indonesia segera dihubungkan dengan huru-hara berdarah ini. Tak perlu menunggu lama, respons atas kerja Oentoeng dan kawan-kawan muncul. Mayjen Soeharto, Panglima Kostrad, memimpin aksi balasan ini. Dalam bulan-bulan berikutnya, para anggota dan simpatisan PKI dibunuh atau dijebloskan ke tahanan dan diasingkan ke Pulau Buru. Pembunuhan-pembunuhan ini terutama terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Jumlah korban tak pernah bisa diketahui secara persis. Perkiraan moderat menyebut 500 ribu nyawa melayang. Sementara, dugaan lain, menyebut dua sampai tiga juta orang menjadi korban. Versi resmi menyebut secara telak keterlibatan PKI. Tapi, di luar itu, meluncur versi-versi lain. Sebut saja, versi yang menyatakan bahwa peristiwa ini murni konflik internal di Angkatan Darat. Versi lain menyatakan, Sukarno menjadi “penulis skenario.” Juga ada versi yang menuduh CIA sebagai aktor intelektual dari tragedi paling kelam di Indonesia pada kemerdekaan ini. Terlepas dari keberadaan sejumlah versi itu, PKI ditumpas. Bahkan, anak dan cucu anggota atau simpatisan partai juga merasakan getah pahitnya—meski bisa jadi mereka tak tahu apa-apa soal peristiwa tersebut. Marxisme-Leninisme resmi dilarang disebarluaskan. (YUS/dari berbagai sumber)

9 Oktober 1967: Che Guevara Dieksekusi Mati

Di tengah belantara, Ernesto Guevara Lynch de La Serna terkepung pasukan Bolivia. Hari itu, 8 Oktober 1967, lelaki yang akrab disapa "Che" itu harus mengakhiri perjuangannya. Keesokan hari, ia dieksekusi mati. Guevara dilahirkan di Rosario, Argentina, pada 14 Mei 1928. Pada usia belia, ia telah gemar menyimak bacaan karya Karl Marx, Friedrich Engels, dan Sigmund Freud di perpustakaan ayahnya.
Menjelang dewasa, ia masuk Universitas Buenos Aires sebagai mahasiswa fakultas kedokteran. Setelah menyabet gelar dokter, Guevara menempuh perjalanan ke sejumlah negara Amerika Latin. Perjalanan itu kemudian dikisahkan ulang dalam film Motorcycle Diaries. Usai perjalanan itu, lahirlah seorang aktivis. Guevara pergi ke Guatemala untuk bergabung dengan gerakan revolusioner di negeri itu. Keterlibatan ini membuatnya menjalin relasi dengan para aktivis kiri lain. Sebut saja, Fidel Castro dari Kuba. Ketika Fidel dan kelompoknya bergerilya, Guevara ikut serta. Mereka akhirnya berhasil memakzulkan diktator Fulgencio Batista yang didukung Amerika Serikat pada 1959. Guevara kemudian ditunjuk selaku Gubernur Bank Sentral dan Menteri Perindustrian. Pada 1965, Guevara lenyap. Castro mengumumkan, sang kamerad telah mengundurkan diri dan meninggalkan Kuba. Gosip beredar: keduanya bertikai paham. Yang jelas, Guevara bergabung dengan pemberontak Marxis di Bolivia dan meninggalkan kenyamanan di Havana. Di Bolivia, hidup pria yang doyan mengenakan baret itu berujung. Beberapa tahun belakangan, Guevara "hidup" kembali. Fotonya banyak ditemui pada t-shirt anak muda yang mencari teladan soal idealisme-meski sebagian lain sekadar aksi-aksian. (YUS/dari berbagai sumber)

15 Oktober 1990: Gorbachev Meraih Nobel

Mikhail Sergeyevich Gorbachev adalah sosok kontroversial. Di luar Uni Soviet, dia dipuja-puji lantaran dianggap membawa iklim demokratisasi dan berjasa menghentikan perang dingin dengan Amerika Serikat. Itulah yang membuatnya dianugerahi Nobel Perdamaian. Lebih jauh, ia merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh di abad 20. Dalam siaran pers, Panitia Nobel menulis, “Selama beberapa tahun terakhir, terjadi perubahan dramatis dalam hubungan Timur dan Barat. Konfrontrasi telah digantikan dengan negosiasi.” Dalam proses ini, Gorbachev menjadi promotor dari Blok Timur.
Menyambut anugerah ini, Gorbachev dalam pidato penerimaan mengatakan, “Saya tak memaknai Nobel Perdamaian ini sebagai hadiah untuk saya secara personal. Tapi, ini merupakan pengakuan atas hal yang kami sebut perestroika dan inovasi pemikiran politik, yang sangat siginifikan bagi nasib umat manusia di seluruh dunia.” Lima tahun tahun sebelumnya, 11 Maret 1985, Gorbachev diangkat sebagai Sekjen Partai Komunis Uni Soviet menyusul kematian Konstantin Chernenko, sehari sebelumnya. Usai dipilih, Gorbachev menggelar glasnost (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi). Ironisnya, di dalam negeri, Gorbachev belakangan dicerca sebagian besar rakyatnya sebagai biang keladi kejatuhan Uni Soviet. Karena Gorbachev, sejumlah republik mini berani menentang Kremlin dengan memerdekakan diri. Bukti betapa tak populernya Gorbachev tampak saat pemilihan presiden pada 1996. Sebagai calon, Gorbachev hanya meraup sekitar 1% suara. Sebenarnya, dia sudah pernah “kalah” juga sebelumnya. Gorbachev mengundurkan diri sebagai Presiden Uni Soviet pada 25 Desember 1991 menyusul upaya kudeta kelompok garis keras di Moskow pada Agustus 1991. Gorbachev lahir pada 2 Maret 1931. Lulus dari fakultas hukum, dia terjun ke dunia politik dan aktif di Komsomol atau Perhimpunan Komunis Muda di daerah kelahirannya, Stavropol. Dari sana, karier politiknya terus berkembang, mencapai puncak, lalu layu. (YUS/dari berbagai sumber)

24 Oktober 1929: "Kamis Hitam" yang Merontokkan Wall Street

Bermula dari sebuah kebijakan. Pada 1925 dan 1927, Bank Sentral Amerika (The Fed) menurunkan suku bunga untuk menyokong Bank Sentral Inggris dalam menerapkan standar emas. Pada saat bersamaan, bursa Wall Street tengah bergairah. Alhasil, jutaan warga AS meminjam uang di bank dan menanamnya di bursa. Tak hanya itu. Para pialang meminjamkan dana kepada investor untuk membeli saham. Di sisi lain, sejumlah analis dan spekulan memuji-muji saham tertentu meski sejatinya fundamental emiten saham bersangkutan rapuh.
Duit yang digelontorkan secara deras mengerek naik harga saham menjadi terlampau tinggi, jauh di atas harga riil jika fundamental emiten saham itu diperhitungkan. Ibarat balon yang terus ditiup, Wall Street akhirnya tak tahan dan "meletus". Setelah menjejak titik tertinggi pada 3 September 1929, indeks Dow Jones Industrial Average kemudian terkoreksi selama sebulan hingga merosot 17 persen. Puncaknya, Kamis, 24 Oktober 1929, para investor kembali melepas saham secara massal. Pada hari itu berlangsung sekitar tiga belas juta transaksi. Ini membikin indeks Dow Jones kembali terpuruk 13 persen. Kendati otoritas pasar modal AS telah berupaya menstabilkan pasar, pada 29 Oktober 1929, harga saham kembali anjlok 12 persen. Total kerugian investor mencapai 30 miliar dolar AS. Pada 1931, Senat AS membentuk Komisi Pecora untuk menyelidiki sebab-musabab kehancuran Wall Street. Dua tahun kemudian Kongres Amerika menerbitkan Glass-Steagall Act, yang mengamanatkan pemisahan antara bank komersial, yang menerima deposito dan memberikan pinjaman, dengan bank investasi, yang menjadi penjamin emisi, penerbit, dan distribusi saham, dan obligasi Sejumlah ekonom meyakini, runtuhnya Wall Street berperan besar memantik Depresi Besar 1929-1938. Berawal dari AS, sejumlah negara juga terkena imbasnya. Di AS, pemerintahan Presiden Franklin Delano Roosevelt meluncurkan “New Deal” untuk menanggulangi depresi.(YUS/dari berbagai sumber)

9 November 1989: Tembok Berlin Dibuka

Tembok Berlin dibangun 13 Agustus 1961 oleh pemerintahan komunis Jerman Timur. Tembok ini yang memotong kota Berlin persis di tengahnya menjadi simbol Perang Dingin yang paling terkenal. Di bawah tekanan politik dan kesulitan ekonomi, banyak warga negara Jerman Timur yang berupaya lari menyeberang Jerman Barat. Khawatir pelarian dari Berlin Timur ke Berlin Barat terus berlangsung, didirikanlah tembok perbatasan dengan mengerahkan sekitar 40 ribu tentara dan polisi Jerman Timur.
Seiring berakhirnya Perang Dingin, keinginan untuk hijrah ke Berlin Barat semakin kuat. Rezim komunis Jerman Timur masih tegak tapi sudah mengalami demoralisasi. Sekitar sebelas bulan kemudian reunifikasi Jerman akhirnya terlaksana. Mula-mula tembok ini hanya berupa kawat-kawat berduri saja, tetapi lama-lama dibangun tembok batu yang dilengkapi menara-menara pengawas dan senjata-senjata otomatis bersensor. Kehadiran tembok ini tak mengurangi hasrat warga Jerman Timur untuk menyeberang. Sebuah dokumen, pada 1973, ditemukan dan berisi perintah buat para penjaga perbatasan untuk menembak calon pelarian, termasuk perempuan dan anak-anak. Para mantan pemimpin Jerman Timur menyangkal bahwa perintah semacam itu pernah ada. Selama 26 tahun berdirinya tembok Berlin, tercatat setidaknya 133 orang tewas saat mencoba melarikan diri dari Berlin Timur.(YUS/dari berbagai sumber)

10 November 1945: Surabaya Melawan Dengan Heroik

Pada 25 Oktober 1945, tentara Inggris mendarat di Surabaya dengan tugas melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang. Namun, ternyata, tentara Inggris juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda. Tentara Netherlands Indies Civil Administration (NICA) ikut membonceng. Mengetahui hal ini, rakyat Indonesia tak terima. Di Surabaya, pengibaran bendera Belanda, Merah-Putih-Biru, di Hotel Yamato, melahirkan Insiden Tunjungan, yang menyulut bentrokan-bentrokan antara pasukan Inggris dengan rakyat. Bentrokan-bentrokan itu memuncak dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, pada 30 Oktober.
Mayor Jenderal Mansergh, pengganti Mallaby, merilis ultimatum. Isinya: semua pemimpin dan rakyat Indonesia bersenjata harus melapor dan meletakkan senjata di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah pukul 06.00 pagi pada 10 November. Ultimatum tersebut ditolak Indonesia. Alasannya, Republik Indonesia sudah berdiri dan Tentara Keamanan Rakyat sebagai alat negara juga telah dibentuk. Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dengan mengerahkan sekitar 30 ribu serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah kapal perang. Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, dibombardir dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk tewas atau luka-luka. Tapi, rakyat Surabaya dan sekitarnya melawan dengan gagah berani. Baru sebulan kemudian, Surabaya jatuh ke genggaman Inggris, padahal semula diperkirakan bakal takluk dalam tempo tiga hari. Heroisme di Surabaya ini menjadi inspirasi daerah-daerah lain di Indonesia. Untuk mengenangnya, 10 November kemudian dijadikan "Hari Pahlawan."(YUS/dari berbagai sumber)

22 November 1963: John F. Kennedy Dibunuh

John Fitzgerald Kennedy ditembak saat menumpangi iring-iringan mobil kepresidenan beratap terbuka di Dallas, Texas. Istrinya, Jacqueline Bouvier Kennedy, juga ada di kendaraan tersebut. Sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawa presiden Amerika Serikat ke -35 ini tak tertolong. Lee Harvey Oswald lalu dituduh sebagai pelaku. Oswald pun ditangkap. Namun, pada 24 November 1963, Oswald tewas di tangan Jack Ruby, seorang penjaga klub malam, saat akan keluar dari kantor polisi di Dallas untuk dipindahkan lokasi penahanannya. Sampai saat kematiannya, mantan marinir AS itu menolak tuduhan telah membunuh Kennedy. Beberapa bulan kemudian, penyelidikan Komisi Warren menyimpulkan, pelaku pembunuhan Kennedy memang Oswald.
Tapi, sampai hari ini, kesimpulan itu masih menjadi polemik. Dua tahun lalu, sebuah tayangan televisi dokumenter berjudul The Man Who Killed Kennedy menyebut, Lyndon B. Johnson (wakil presiden bagi Kennedy) dan beberapa stafnya ikut bertanggung jawab. Versi lain, agen rahasia Uni Soviet dan kelompok mafia berada di belakang tragedi ini. Tiga tahun sebelumnya, Kennedy menjadi orang termuda yang terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, dan termuda kedua setelah Theodore Roosevelt untuk jabatan tersebut. Kennedy dilantik pada 20 Januari 1961. Ia lahir dari dinasti Kennedy yang berdarah Irlandia-Amerika, sebuah keluarga terkemuka di kancah politik Amerika Serikat. Adiknya, Robert dan Edward, juga aktif di politik. Mereka bertiga berjuang di bawah panji Partai Demokrat. Hingga hari ini, kematian Kennedy merupakan kisah pembunuhan politik yang paling sering dibicarakan. Sineas tersohor Oliver Stone juga tertarik mengangkatnya ke layar lebar.(YUS/dari berbagai sumber)

28 November 1975: Fretilin Memproklamasikan Kemerdekaan Timor Timur

Jumat sore, 28 Nopember 1975, ketika matahari telah agak tergelincir ke barat, partai Fretilin memproklamirkan kemerdekaan Timor Timur. Reuters memberitakan, proklamasi itu ditandai penurunan bendera Portugal di alun-alun Dili, disusul pengibaran bendera Fretilin, mengheningkan cipta, dan pembacaan teks proklamasi oleh Ketua Fretilin FX do Amaral. Portugal langsung bereaksi. Hari itu juga, sebagaimana dilaporkan Dubes RI di Lisabon Ben Mang Reng Say, Portugal menyatakan turut mendukung proklamasi Fretilin. Alasan Lisabon konon lantaran "tidak tercapai kata sepakat soal tempat perundingan".
Momen proklamasi itu bisa ditarik melintasi benua, ke pergolakan politik di Portugal pada 1974. Rezim Salazar jatuh oleh gerakan politik para perwira di bawah komando Jenderal Spinola. "Revolusi Bunga" berlangsung. Spinola mengupayakan dekolonisasi di Angola, Mozambik, dan Timor Timur. Lisabon menjanjikan referendum pada Maret 1975. Tapi, suhu politik telanjur panas. Konflik tak tertahankan. Fretilin akhirnya berinisiatif. Sebagai tanggapan atas proklamasi tersebut, para anggota dari empat partai politik lain mendeklarasikan integrasi Timor Timur ke dalam Indonesia dengan menandatangani "Deklarasi Balibo" pada 30 November 1975. Peristiwa ini yang membuat Indonesia memiliki alasan untuk masuk ke Timor Timur. Pada 7 Desember 1975, Operasi Seroja dimulai. Indonesia mengerahkan pasukan dari darat, laut, dan udara. Dunia internasional heboh. Selama bertahun-tahun, Indonesia menjadi obyek pergunjingan, termasuk di Perserikatan Bangsa-bangsa, setelah Timor Timur dimasukkan sebagai salah satu propinsi. Portugal selalu berusaha meloloskan resolusi Dewan Keamanan PBB tentang Timor Timur. Timor Timur akhirnya lepas dari Indonesia pada 1999 setelah melalui jajak pendapat yang juga diwarnai konflik berdarah. Kaum pro-kemerdekaan menang. Dan, Timor Timur berubah nama menjadi Timor Leste.(YUS/dari berbagai sumber)

1 Desember 1956: Hatta Mengundurkan Diri

Pada 1955, Bung Hatta mengumumkan, bila parlemen dan Konsituante sudah terbentuk, ia akan mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Niat untuk mengundurkan diri itu diberitahukannya melalui sepucuk surat kepada ketua Perlemen, Mr. Sartono. Tembusan surat dilayangkan kepada Presiden Soekarno. Setelah Konstituante terbentuk, Hatta memastikan kepada Ketua Parlemen bahwa ia akan meletakkan jabatan sebagai Wakil Presiden pada 1 Desember 1956. Soekarno berusaha mencegah, tetapi Bung Hatta tetap pada pendiriannya.
Hatta merasa tidak cocok lagi dengan Soekarno selaku presiden. Ia menganggap rekannya dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia itu sudah mulai meninggalkan demokrasi dan ingin memimpin dengan cara non-demokratis. Sebagai pejuang demokrasi, Hatta tidak bisa menerima perilaku Soekarno. Dalam sebuah wawancara, putri Hatta, Meuthia, menyatakan, "Setelah agak besar, saya mengetahui pengunduran diri itu dilakukan karena perbedaan prinsip." Pada 1960, Hatta menulis Demokrasi Kita di majalah Pandji Masyarakat. Ini sebuah risalah yang menonjolkan pandangan dan pikiran Anak Minang itu mengenai demokrasi di Indonesia. Tentu saja, tulisan tersebut sarat dengan kritik terhadap praktik Demokrasi Terpimpin saat itu. Setelah Hatta mundur, di Indonesia tidak ada lagi seorang wakil presiden yang mendampingi Soekarno. Praktis sejak 1956-1967, Soekarno menjalankan roda pemerintahan seorang diri. Indonesia baru memiliki wakil presiden pada 1973, bukan untuk mendampingi Soekarno melainkan Suharto.(YUS/dari berbagai sumber)

8 Desember 1980: John Lennon Ditembak Mati

Mark David Chapman lahir di Fort Worth, Texas, pada 10 Mei 1955. Semula ia merupakan fans The Beatles. Belakangan, Chapman menjadi bagian dari kaum Kristen fundamentalis. Ia lalu percaya bahwa kelompok musik itu membawa pengaruh buruk bagi banyak orang. John Lennon, motor Beatles, terutama menjadi sasaran kegusarannya. Chapman datang ke New York. Beatles sudah lama bubar. Lennon bersolo karier. Pada 8 Desember 1980, Chapman bertemu Lennon dan istrinya, Yoko Ono, saat meninggalkan apartemen untuk pergi ke studio. Lennon menandatangani album Double Fantasy untuk Chapman, dan seorang fotografer mengambil foto mereka.
Chapman menanti hingga pasangan itu kembali. Ketika Lennon hendak memasuki apartemennya, Chapman mencabut pistol, memanggil, lalu menembaknya beberapa kali. Lennon jatuh, dan tewas dalam perjalanan ke rumah sakit akibat kehabisan darah. Pria tersebut masih di lokasi dan tengah membaca The Catcher in the Rye karya J. D. Salinger, saat polisi datang. Di muka hakim, ia mengatakan, Tuhan telah memerintahkannya berbuat demikian. Ia dijatuhi dakwaan pembunuhan tingkat kedua dan dijatuhi 25 tahun penjara. Mendekam di Attica State Prison, Chapman dipisahkan dari tahanan lain karena soal kesehatan jiwanya. Ia sempat menulis surat pada Yoko, coba meminta maaf dan menjelaskan tindakannya. Namun Yoko tak pernah menjawab. Seperti Lennon, pria gemuk ini menikahi seorang wanita Jepang. Chapman bekerja sebagai petugas keamanan.(YUS/dari berbagai sumber)

27 Desember 1949: Pengakuan Kedaulatan Indonesia

Pada 27 Desember 1949, sebagai pelaksanaan hasil Konferensi Meja Bundar yang ditandatangani di Den Haag, wakil tertinggi mahkota Belanda (dulu disebut gubernur jenderal) AHJ Lovink menyerahkan tanggung jawab pemerintahan kepada Republik Indonesia Serikat yang diwakili Menteri Pertahanan Sultan Hamengku Buwono IX. RIS merupakan kesepakatan antara RI dan "negara-negara bagian" yang didirikan di daerah pendudukan Belanda. Kebijakan ini dirumuskan pimpinan RI, Soekarno dan M. Hatta, ketika ditahan Belanda di Pulau Bangka setelah ibu kota perjuangan RI, Yogyakarta, diduduki Belanda pada 18 Desember 1948.
Hasilnya adalah kesepakatan mendirikan RIS, karena Belanda hanya bersedia mengakui dan menyerahkan kedaulatan kepada model negara semacam itu. Namun, pihak RI sukses mendudukkan Soekarno sebagai Presiden RIS dan Hatta sebagai perdana menteri. Konsesi yang diberikan Indonesia adalah beberapa hal di bidang ekonomi dan pihak Belanda masih menguasai Irian Barat yang dinyatakan sebagai sengketa. Tapi, disepakati bahwa masalah itu akan diselesaikan melalui perundingan dalam masa satu tahun. Pada kenyataannya, sengketa "Irian Barat" baru bisa diselesaikan setelah 12 tahun. Selama 60 tahun, Belanda menyatakan, Indonesia merdeka pada 27 Desember 1949. Pada kurun waktu tersebut, juga ada kekhawatiran bahwa mengakui Indonesia merdeka pada 1945 sama saja mencap tindakan Aksi Polisionil pada 1945-1949 sebagai ilegal. Proklamasi 17 Agustus 1945 baru diakui pada 16 Agustus 2005 oleh Menteri Luar Negeri Belanda Bernard Rudolf Bot dalam sebuah pidato resmi di Gedung Departemen Luar Negeri Indonesia di Jakarta. (YUS/dari berbagai sumber)

31 Desember 1799: VOC Bubar

Menurut catatan sejarah, pada 1598, 22 kapal milik lima perusahaan berlayar ke timur dari Belanda. Setahun kemudian kapal kembali ke Belanda dengan keuntungan empat kali lipat. Pada 1601, 14 kapal berlayar ke timur. Harga rempah-rempah pun jatuh lantaran penawaran melebihi permintaan. Muncul persaingan dan konflik di antara sesama perusahaan Belanda tersebut. Pada 1602, untuk mengatasi persaingan merugikan itu, atas usul parlemen Belanda, perusahaan-perusahaan ekspedisi tersebut bergabung dalam Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC), atau "Perserikatan Maskapai Hindia Timur".
VOC lalu tumbuh menjadi organisasi yang amat spesial. Ia diberi hak-hak khusus. Misalnya, memiliki mata uang sendiri, memiliki tentara, atau boleh mengadakan perjanjian dengan penguasa pribumi. Lihat, VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa ini, dan terlibat dalam sejumlah peperangan. VOC yang memperkenalkan konsep "monopoli" dalam perdagangan yang sampai saat itu tak pernah dikenal dalam perdagangan pribumi. Dengan cara dagang monopoli ini pedagang pribumi dirugikan. Jika menolak, diperangi. Satu contoh, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan VOC mengerahkah kekuatan senjatanya. Hampir dua abad VOC berjaya. Tapi, pada 31 Desember 1799, VOC terpaksa dibubarkan. Utangnya amat besar karena dijalankan oleh para pejabat yang korup. Kekuasaan VOC pun beralih ke tangan pemerintah Hindia Belanda sejak 1800.(YUS/dari berbagai sumber)

7 Januari 1965: Indonesia Keluar dari PBB

Sebuah gedung megah, yang kini jadi gedung DPR/MPR, menurut rencana dibangun untuk penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces (Conefe). Peserta pertemuan adalah the New Emerging Forces (Nefos), negara-negara dunia ketiga. Penyelenggaraan Conefo dimaksudkan untuk menandingi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang ketika itu dikuasai Blok Barat--minimal, dalam persepsi Presiden Sukarno. Karena itu, menurut Sukarno, PBB perlu di-retool dan markas besarnya dipindahkan dari New York.
Sebagai puncak ketidaksenangan pada PBB, pada 7 Januari 1965, Sukarno mengomandokan: "Indonesia keluar dari PBB." Pemicu utama, dan bukan satu-satunya, adalah Malaysia menjadi anggota Dewan Keamanan PBB. Ia berpendapat, Malaysia hanya boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan Asia Tenggara. Menurut cerita wartawan senior Alwi Shahab, komando ini diucapkan di hadapan lebih dari 10 ribu massa dalam sebuah rapat umum Anti Pangkalan Militer Asing di Istora Senayan, Jakarta. Keluarnya Indonesia dari PBB ini memperoleh dukungan dari berbagai lapisan masyarakat. Keesokan harinya, ribuan mahasiswa, pemuda, buruh dan tani turun ke jalan-jalan membawa spanduk sambil mengutuk PBB. Pada 28 September 1966, setelah Sukarno jatuh, Indonesia kembali bergabung dengan PBB.(YUS/dari berbagai sumber)

15 Januari 1974: Peristiwa Malari Meletus

Malari adalah akronim dari "Malapetaka Lima Belas Januari." Istilah ini merujuk pada aksi demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan yang terjadi pada 15 Januari 1974 di Jakarta. Malari meletus ketika Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka berkunjung ke Jakarta pada 14-17 Januari 1974. Peristiwa berawal dari apel ribuan mahasiswa dan pelajar yang berlangsung dari kampus Universitas Indonesia (UI) di Jalan Salemba, Jakarta Pusat, menuju kampus Universitas Trisakti di bilangan Grogol, Jakarta Barat. Dalam apel tersebut, mahasiswa dan pelajar merilis Tritura 1974. Isinya meminta pemerintah untuk memberantas korupsi, mengubah kebijakan ekonomi terutama mengenai modal asing yang didominasi Jepang, dan membubarkan lembaga tidak konstitusional seperti Asisten Pribadi Presiden.
Menutup apel, para mahasiswa dan pelajar itu membakar patung Kakuei Tanaka. Lalu mereka menuju ke Istana Negara di kawasan Monas dan coba menerobos masuk. Saat itu, Istana menjadi tempat pertemuan Presiden Soeharto dan Tanaka. Tapi, niat bertemu Tanaka dibendung aparat keamanan. Entah siapa yang memulai, demonstrasi itu berubah menjadi kerusuhan massal. Paling kurang 11 orang tewas, 300 terluka, serta 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 buah bangunan rusak berat. Sedikitnya 160 kilogram emas dijarah dari sejumlah toko perhiasan. Proyek Senen habis terbakar. Ketua Dewan Mahasiswa UI Hariman Siregar dianggap paling bertanggung jawab. Ia lalu divonis penjara enam tahun. Sejumlah aktivis dan tokoh lain juga sempat dibui. Sebut saja Mochtar Lubis, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Sjahrir, dan Marsillam Simanjuntak. Sejumlah koran juga diberangus, di antaranya Indonesia Raya, Harian KAMI, dan Pedoman. Di tataran elit, juga terjadi sejumlah pergeseran sebagai dampak Malari. Soeharto memberhentikan Soemitro sebagai Panglima Kopkamtib dan langsung mengambil alih jabatan strategis tersebut. Lembaga Asisten Pribadi Presiden dibubarkan. Kepala Bakin Soetopo Juwono digantikan Yoga Sugama.(YUS/dari berbagai sumber)

23 Januari 1973: Perang Vietnam Dinyatakan Berakhir

Di layar televisi, Presiden Richard Nixon mengumumkan berakhirnya Perang Vietnam. Amerika Serikat dan Vietnam Utara menandatangani perjanjian perdamaian di Paris, Prancis, untuk menuntaskan perang terpanjang dalam sejarah Amerika tersebut. Kepada rakyat Vietnam Selatan, yang menjadi sekutunya, Nixon menyatakan, "Atas keberanian dan pengorbanan Anda, Anda telah memenangi hak untuk menentukan masa depan sendiri dan Anda semua telah membangun kekuatan untuk mempertahankan hak tersebut."
Sementara itu, kepada para pemimpin Vietnam Utara, Nixon berujar, "Setelah kita mengakhiri perang melalui perundingan, mari kita bangun perdamaian dan rekonsiliasi." Perang benar-benar selesai secara efektif sejak Sabtu tengah malam, 27 Januari 1973. Untuk memonitornya, diturunkan pasukan penjaga perdamaian PBB dari Kanada, Polandia, Hungaria, dan Indonesia. Tentara terakhir Amerika meninggalkan Hanoi pada 29 Maret 1973. Pada kenyataannya, sampai beberapa bulan usai kesepakatan perdamaian, bentrok senjata masih kerap terjadi. Amerika terlibat perang itu sejak 1967 atau sepuluh tahun setelah konflik berkobar. Mereka berpihak pada Vietnam Selatan untuk melawan Vietnam Utara yang berhaluan komunis dan disokong Republik Rakyat China. Sebanyak 500 ribu serdadu Yankees diterjunkan di sana. Banyak pihak berpendapat, Amerika telah takluk dalam perang itu dengan lebih dari 50 ribu serdadu mereka tewas. Pada 1976, Vietnam bersatu dan menjadi negara komunis.(YUS/dari berbagai sumber)

27 Januari 2008: Mantan Presiden Soeharto Meninggal Dunia

Mantan Presiden Soeharto meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta Selatan, Ahad, 27 Januari 2008 pada pukul 13.10 WIB. Sebelumnya tim dokter kepresidenan mengumumkan bahwa keadaan Soeharto pada Ahad pagi sangat kritis, pernafasan dangkal dan 100 persen kembali diambil alih alat bantu pernafasan. Ketua tim dokter kepresidenan, Marjo Soebiandono, menjelaskan sejak pukul 01.00 WIB keadaan kesehatan secara umum mantan orang nomor satu itu menurun, kemudian terjadi sesak nafas diikuti tekanan darah yang juga menurun.
Kematian itu adalah ujung dari perawatan sejak 4 Januari 2008. Soeharto kembali dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta, karena kadar hemoglobin rendah, tekanan darah turun dan ada penimbunan cairan sehingga tubuh membengkak. Sebelum 4 Januari itu, kabar terakhir adalah Tim Dokter Kepresidenan menemukan dua titik penyumbatan pembuluh darah di otak bagian kanan Soeharto pada 18 Mei 2006. Pada Senin, 28 Januari 2008, pukul 12.15 WIB, Soeharto dimakamkan di Kompleks Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah. Soeharto kemudian mengambil alih kekuasaan dari Soekarno, dan resmi menjadi presiden pada tahun 1968. Pada 1998, masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada 21 Mei di tahun tersebut, menyusul meletusnya Tragedi Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa. Ia merupakan orang Indonesia terlama yang menduduki jabatan presiden. Soeharto digantikan B.J. Habibie.(YUS/dari berbagai sumber)